ALT_IMG

Apa itu Islam

Kepercayaan utama Islam itu menyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; yang esa dan sejati, dan Muhammad merupakan rasul Allah. Cukup dengan mengucapkan kepercayaan ini, seseorang langsung dianggap memeluk agama Islam. Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Thursday, May 18, 2017

Akibat Memakan Harta Riba

0 komentar
Akibat Memakan Harta Riba

Oleh: Ade Zarkasyi bin Sabit

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ.
Kaum muslimin seiman dan seaqidah
Tepatnya ketika Allah Subhannahu wa Ta'ala memberikan mukjizat kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berupa Isra’ Mi’raj, pada saat itu pula Allah Ta'ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah n melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Kemudian Allah Ta’ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan onta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).

Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 270).

Barang-barang haram yang tiada terhitung banyaknya sampai menyusahkan dan memberatkan mereka ketika harus cepat-cepat berjalan pada hari Pembalasan. Setiap kali akan bangkit berdiri, mereka jatuh kembali, padahal mereka ingin berjalan bergegas-gegas bersama kumpulan manusia lainnya namun tiada sanggup melakukannya akibat maksiat dan perbuatan dosa yang mereka pikul.
Maha Besar Allah yang telah berfirman:
“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah: 275).

Dalam menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu “Abbas Radhiallaahu anhu berkata:
“Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40).
Imam Qatadah juga berkata:
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba.” (Lihat Al-Kaba’ir, Imam Adz-Dzahabi, hal. 53).

Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawanya pergi sampai menjumpai sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai tersebut ada seseorang yang di tangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada orang yang berada di dalam sungai tadi. Apabila orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka dikatakan kepada beliau: “Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah orang yang memakan harta riba.” (Fathul Bari, 3/321-322).
Kaum muslimin sidang Jum’at yang berbahagia… inilah siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba, bahkan dalam riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallaahu anhu mengatakan:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda: “Mereka itu sama”. (HR. Muslim, no. 1598).
Semaraknya praktek riba selama ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang menjadikan umat Islam lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank-bank, lebih-lebih dengan semaraknya kasus-kasus pencurian dan perampokan serta berbagai adegan kekerasan yang semakin merajalela. Bahkan sistem simpan pinjam dengan bunga pun sudah dianggap biasa dan menjadi satu hal yang mustahil bila harus dilepaskan dari perbankan. Umat tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Riba dianggap sama dengan jual beli yang diperbolehkan menurut syari’at Islam. Kini kita saksikan, gara-gara bunga berapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik dengan bunga yang ada. Musibah dan bencana telah meresahkan masyarakat, karena Allah yang menurunkan hukumNya atas manusia telah mengizinkan malapetaka atas suatu kaum jika kemaksiatan dan kedurhakaan telah merejalela di dalamnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dan isnadnya jayyid, bahwasannya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
مَا ظَهَرَ فِيْ قَوْمٍ الزِّنَى وَالرِّبَا إِلاَّ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللهِ.
“Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka.” (Lihat Majma’Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, 4/131).
Dan dari bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semakin dangkal yang tidak lain dikarenakan perutnya yang telah dipadati benda-benda haram. Sehingga nasi yang dimakannya menjadi haram, pakaian yang dikenakannya menjadi haram, motor yang dikendarainya pun haram, dan barang-barang perkakas di rumahnya pun menjadi haram, bahkan ASI yang diminum oleh si kecil pun menjadi haram. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin do’a yang dipanjatkan kepada Allah akan dikabulkan jika seluruh harta dan makanan yang ada dirumahnya ternyata bersumber dari hasil praktek riba.
Sebenarnya praktek riba pada awal mulanya adalah perilaku dan tabi’at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui bank-bank yang telah banyak tersebar. Mereka jadikan umat ini khawatir untuk menyimpan uang di rumahnya sendiri seiring disajikannya adegan-adegan kekerasan yang menakutkan masyarakat lewat jalur televisi dan media-media massa lainnya, sehingga umatpun bergegas mendepositokan uangnya di bank-bank milik mereka yang mengakibatkan keuntungan yang besar lagi berlipat ganda bagi mereka, menghimpun dana demi melancarkan rencana-rencana jahat zionis dan acara-acara kristiani lainnya. Mereka banyak membantai umat Islam, namun diam-diam tanpa disadari di antara kita telah ada yang membantu mereka membantai saudara-saudara kita semuslim dengan mendepositokan uang kita di bank-bank mereka.
Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta'ala menegaskan:
“Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa’: 161).

Lalu pantaskah bila umat Islam mengikuti pola hidup suatu kaum yang Allah pernah mengutuknya menjadi kera dan babi, sedangkan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100).

Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita kepada jalanNya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafush-shalih.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ.
Dalam khutbah kedua ini, setelah kita menyadari realitas yang ada, marilah kita sering-sering beristighfar kepada Allah, karena tidak ada obat penyembuh dari kesalahan dan kedurhakaan yang telah kita lakukan kecuali hanya dengan mengakui segala dosa kita lalu beristighfar memohon ampun kepada Allah dan untuk tidak mengulanginya kembali sambil beramal shalih menjalankan ketaatan unukNya, sebagaimana yang dikatakan Nabi Hud Alaihissalam kepada kaumnya:
“Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52).
Pada penutup khutbah ini, marilah kita memunajatkan do’a kepada Allah sebagai bukti bahwasanya kita ini fakir di hadapan Allah Subhannahu wa Ta'ala .

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
Continue reading →
Sunday, May 14, 2017

Adab terhadap Guru

0 komentar

PERAN  ORANGTUA, GURU, DAN SEKOLAH DALAM UPAYA PROSES PENDIDIKAN ANAK

A.     Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk mengantarkan anak didik menuju pada kedewasaannya dalam berbagai aspek, baik dalam cakupan moral maupun material. Upaya tersebut dijalankan berdasarkan satu asumsi bahwa keterdidikan yang kelak dimiliki seorang anak, lebih kuat  karena potensi sendiri, yang berhasil digali oleh factor pendidikan yang dijalaninya.
Di bagian lain, pencapaian hasil maksimal suatu proses pendidikan bagi seorang anak, juga sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh factor orangtuanya, yang tidak dapat tidak harus terikat dan terjun langsung di dalamnya. Dalam hal ini orang tua bukan hanya sebagai pembuka kemungkinan terselenggaranya pendidikan bagi anaknya, tetapi sekaligus berperan sebagai guru bagi mereka.
Mnurut format ini, maka dapat dipahami bahwa suatu proses didik seorang anak terlebih dahulu berlangsung dan berhadapan dengan orangtuanya dalam keluarga, baru setelah itu dengan guru di sekolah, yang sekaligus sebagai salah satu komponen yang amat penting dan utama bagi terselenggaranya upaya pendidikan dalam konteks yang formal. Untuk itu, guru sekolah merupakan orang kedua yang berperan dalam membangkitkan potensi intelektual seorang anak, sehingga dia dapat menjadi orang yang dewasa dalam segala aspek.

B.      Guru dalam keluarga
Untuk memperoleh suatu gambaran yang lebih jelas, maka dapat diperkirakan bahwa dalam sepekan seorang anak didik [pelajar], hanya berada di lingkungan sekolah lebih kurang 39 jam. Selebihnya, atau kurang lebih 129 jam [169 jam sepekan dikurangi jam belajar di sekolah], seorang anak berada dipangkuan dan dalam proses pendidikan keluarganya.
Realitas ini secara langsung memberikan gambaran, bahwa proses belajar seorang anak lebih banyak di jalani dengan “guru” dalam keluarga [masyarakat sekitarnya lebih cenderung tidak dapat lagi ditempatkan sebagai guru dalam arti yang konkret]. Dalam keluarga, anak akan belajar berbagai hal dan kebanyakan bersifat praktis [non teoritis], dan bentuk dukungan terhadap proses pembelajaran teoritis yang umumnya diperoleh anak dari sekolah.
Sekalipun dalam keluarga anak tidak langsung berhadapan dengan seorang guru sebagaimana halnya di sekolah, “guru-orangtua” berfungsi dan berperan sebagai pusat sumber lahirnya mitivasi belajar anak [aspek intelektual] dan post identifikasi aspek keteladanan untuk bekal moral kehidupannya. Untuk aspek terakhir ini, terdidik memang tidak langsung berhadapan dengan pendidik, tapi berlangsung proses belajar di dalamnya.
Kejelasan ini ditemukan dari kenyataan bahwa sesungguhnya anak belajar dari orangtuanya, sehingga dengan demikian, orangtua juga merupakan guru bagi seorang anak. Pengajaran orang tua merupakan awal dan kelanjutan proses belajar yang telah diupayakan pada guru di sekolah, yang lebih banyak pada bentuk kontak formal dan lebih menekankan pada intellectual-oriented.
Dalam keluarga, di samping mempertajam intelektual dimaksud, seorang anak juga belajar value [nilai] berupa sopan santun, cara hidup bermasyarakat, dan segala sesuatu lainnya yang berkaitan dengan aspek moralitas. Aspek-aspek yang demikian ini tidak begitu tegas dapat diperoleh anak di sekolah, karena dominannya kontak formal yang begitu terarah pada aspek kognitif. Selain itu, peluangnya memang begitu besar diperoleh keluarga sesuai lamanya waktu yang dijalani anak di luar sekolah.

C.      Guru di Sekolah
Salah satu tugas para guru di sekolah yang cukup menonjol adalah melakukan upaya-upaya yang mamancing dan menggali potensi intelektual anak didik. Dalam lingkup yang kecil, juga terdapat factor indentifikasi keteladanan bagi anak didiknya dan memberikan motivasi-motivasi yang dapat meyakinkan anak didik agar percaya, bahwa belajar secara terprogram di luar sekolah, hampir sama nilai urgensinya dengan kehadiran untuk belajar di sekolah.
Ini adalah tugas dan upaya maksimal yang dapat dilakukan seorang guru yang henya mendapat bagian waktu mendidik sebanyak 39 jam dalam sepekan. Pada umumnya juga hanya dalam bentuk kontak formal serta sangat dekat dengan intellectual oriented dengan keragaman ilmu yang berjejal. Dibagian lain, disadari atau tidak, aktivitas tersebut bagi para guru juga berkorelasi dengan keharusannya karena factor 
Continue reading →
Thursday, May 11, 2017

Asal Usul Perang Salib

0 komentar
Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub dilahirkan di Takrit Irak pada tahun 532 Hijrah /1138 Masihi dan wafat pada tahun 589 H/1193 M di Damsyik. Beliau adalah pengasas Daulah Al-Ayyubiyah dan bergelar Sultan Shalahuddin. Seorang pahlawan Islam yang paling gagah berani dalam perang Salib dan berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan kaum Salib Kristian.
Latar Belakang
Jerussalem merupakan kota Suci bagi ketiga agama samawi yakni Islam, Yahudi dan Kristian. Di dalam kota inilah letaknya Masjid Al-Aqsa yang dibangun oleh Nabi Sulaiman dan menjadi Kiblat pertama umat Islam sebelum beralih ke Baitullah di Makkah. Ketika Nabi Muhammad Isra’, singgah dan shalat di masjid ini sebelum Mi’raj ke langit. Nabi Isa as. juga dilahirkan di Baitullaham berdekatan kota Jerussalam ini.
Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M) Jerussalam dapat direbut oleh kaum Muslimin dalam suatu penyerahan kuasa secara damai. Khalifah Umar sendiri datang ke Jerussalem untuk menerima penyerahan kota Suci itu atas desakan dan persetujuan Uskup Agung Sophronius.
Berabad abad lamanya kota itu berada di bawah pentabiran Islam, tapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang Kristian dari seluruh dunia juga bebas datang untuk mengerjakan haji di kota Suci itu dan mengerjakan upacara keagamaannya. Orang-orang Kristian dari Eropah datang mengerjakan haji dalam jumlah rombongan yang besar dengan membawa obor dan pedang seperti tentera. Sebahagian dari mereka mempermainkan pedang dengan dikelilingi pasukan gendang dan seruling dan diiringkan pula oleh pasukan bersenjata lengkap.
Sebelum Jerussalem ditadbir Kerajaan Seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat Islam, kerana dasar toleransi agama. Akan tetapi apabila Kerajaan Seljuk memerintah, upacara seperti itu tidak dibernarkan, dengan alasan keselamatan. Mungkin kerana upacara tersebut semakin berbahaya. Lebih-lebih lagi kumpulan-kumpulan yang mengambil bahagian dalam upacara itu sering menyebabkan pergaduhan dan huruhara. Disebutkan bahawa pada tahun 1064 ketua Uskup memimpin pasukan seramai 7000 orang jemaah haji yang terdiri dari kumpulan Baron-baron dan para pahlawan telah menyerang orang-orang Arab dan orang-orang Turki.
Itulah yang membimbangkan Kerajaan Seljuk. Jadi larangan itu demi keselamatan Jemaah haji Kristian itu sendiri. Malangnya, tindakan Seljuk  itu  menjadi salah anggapan  oleh orang-orang Eropah. Ketua-ketua agama mereka telah berkempin bahawa kebebasan agamanya telah dicabuli oleh orang-orang Islam dan menyeru agar Tanah Suci itu dibebaskan dari genggaman umat Islam.
Patriach Ermite adalah paderi yang paling lantang dan bertungkus lumus mengapi-apikan kemarahan umat Kristian. Dia asalnya seorang tentera, tapi kemudian menjadi paderi, berwatak kepala angin dan cepat marah. Dalam usahanya untuk menarik simpati umat Kristian, Ermite telah berkeliling Eropah dengan mengenderai seekor kaldai sambil memikul kayu Salib besar, berkaki ayam dan berpakaian compang camping. Dia telah berpidato di hadapan orang ramai sama ada di dalam gereja, di jalan-jalan raya atau di pasar-pasar. Dia menceritakan sama ada benar atau bohong kisah kunjungannya ke Baitul Maqdis.
Katanya, dia melihat pencerobohan kesucian ke atas kubur Nabi Isa oleh Kerajaan Turki Seljuk. Diceritakan bahawa jemaah haji Kristian telah dihina, dizalimi dan dinista oleh orang-orang Islam di Jerussalem. Serentak dengan itu, dia menggalakkan orang ramai agar bangkit menyertai perang untuk membebaskan Jerussalem dari tangan orang Islam. Hasutan Ermite berhasil dengan menggalakkan. Paus Urbanus II mengumumkan ampunan seluruh dosa bagi yang bersedia dengan suka rela mengikuti Perang Suci itu, sekalipun sebelumnya dia merupakan seorang perompak, pembunuh, pencuri dan sebagainya. Maka keluarlah ribuan umat Kristian untuk mengikuti perang dengan memikul senjata untuk menyertai perang Suci. Mereka yang ingin mengikuti perang ini diperintahkan agar meletakkan tanda Salib di badannya, oleh kerana itulah perang ini disebut Perang Salib.
Paus Urbanus menetapkan tarikh 15 Ogos 1095 bagi pemberangkatan tentera Salib menuju Timur Tengah, tapi kalangan awam sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi setelah dijanjikan dengan berbagai kebebasan, kemewahan dan habuan. Mereka mendesak Paderi Patriach Ermite agar berangkat memimpin mereka. Maka Ermite pun berangkat dengan 60,000 orang pasukan, kemudian disusul oleh kaum tani dari Jerman seramai 20.000, datang lagi 200,000 orang menjadikan jumlah keseluruhannya 300,000 orang lelaki dan perempuan. Sepanjang perjalanan, mereka di izinkan merompak, memperkosa, berzina dan mabuk-mabuk. Setiap penduduk negeri yang dilaluinya, selalu mengalu-alukan dan memberikan bantuan seperlunya.
Akan tetapi sesampainya di Hongaria dan Bulgaria, sambutan sangat dingin, menyebabkan pasukan Salib yang sudah kekurangan makanan ini marah dan merampas harta benda penduduk. Penduduk di dua negeri ini tidak tinggal diam. Walau pun mereka sama-sama beragama Kristian, mereka tidak senang dan bertindak balas. Terjadilah pertempuran sengit dan pembunuhan yang mengerikan. Dari 300,000 orang pasukan Salib itu hanya 7000 sahaja yang selamat sampai di Semenanjung Thracia di bawah pimpinan sang Rahib.
Apabila pasukan Salib itu telah mendarat di pantai Asia kecil, pasukan kaum Muslimin yang di pimpin oleh Sultan Kalij Arselan telah menyambutnya dengan hayunan pedang. Maka terjadilah pertempuran sengit antara kaum Salib dengan pasukan Islam yang berakhir dengan hancur binasanya seluruh pasukan Salib itu.
Kaum Salib Mengganas
Setelah kaum Salib yang dipimpin oleh para Rahib yang tidak tahu strategi perang itu musnah sama sekali, muncullah pasukan Salib yang dipimpin oleh anak-anak Raja Godfrey dari Lorraine Perancis, Bohemund dari Normandy dan Raymond dari Toulouse. Mereka berkumpul di Konstantinopel dengan kekuatan 150,000 askar, kemudian menyeberang selat Bosfur dan melanggar wliayah Islam bagaikan air bah. Pasukan kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 50,000 orang bertahan mati-matian di bawah pimpinan Sultan Kalij Arselan.
Satu persatu kota dan Benteng kaum Muslimin jatuh ke tangan kaum Salib, memaksa Kalij Arselan berundur dari satu benteng ke benteng yang lain sambil menyusun kekuatan dan taktik baru. Bala bantuan kaum Salib datang mencurah-curah dari negara-negara Eropah. Sedangkan Kalij Arselan tidak dapat mengharapkan bantuan dari wilayah-wilayah Islam yang lain, kerana mereka sibuk dengan kemelut dalaman masing-masing.
Setelah berlaku pertempuran sekian lama, akhirnya kaum Salib dapat mara dan mengepung Baitul Maqdis, tapi penduduk kota Suci itu tidak mahu menyerah kalah begitu saja. Mereka telah berjuang dengan jiwa raga mempertahankan kota Suci itu selama satu bulan. Akhirnya pada 15 Julai 1099, Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib, tercapailah cita-cita mereka.
Berlakulah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Kaum kafir Kristian itu telah menyembelih penduduk awam Islam lelaki, perempuan dan kanak-kanak dengan sangat ganasnya. Mereka juga membantai orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristian yang enggan bergabung dengan kaum Salib. Keganasan kaum Salib Kristian yang sangat melampau itu telah dikutuk dan diperkatakan oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa.
Seorang ahli sejarah Perancis, Michaud berkata, “Pada saat penaklukan Jerussalem oleh orang Kristian tahun 1099, orang-orang Islam dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tidak punya tempat lagi bagi orang-orang yang kalah itu. Beberapa orang cuba mengelak dari kematian dengan cara menghendap-hendap dari benteng, yang lain berkerumun di istana dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun mereka tetap  tidak dapat menyembunyikan diri dari pengejaran orang-orang Kristian itu. Tentera Salib yang menjadi tuan di Masjid Umar, di mana orang-orang Islam cuba mempertahankan diri selama beberapa lama menambahkan lagi adegan-adegan yang mengerikan yang menodai penaklukan Titus. Tentera infanteri dan kaveleri lari tunggang langgang di antara para buruan. Di tengah huru-hara yang mengerikan itu yang terdengar hanya rintihan dan jeritan kematian. Orang-orang yang menang itu memijak-mijak tumpukan mayat ketika mereka lari mengejar orang yang cuba menyelamatkan diri dengan sia-sia.”
Raymond d’Agiles, yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri mengatakan, “Di bawah serambi masjid yang melengkung itu, genangan darah dalamnya mencecah lutut dan mencapai tali kekang kuda.”
Aksi pembantaian hanya berhenti beberapa saat saja, yakni ketika pasukan Salib itu berkumpul untuk menyatakan kesyukuran di atas kemenangan mereka. Tapi sebaik saja upacara itu selesai, pembantaian diteruskan dengan lebih ganas lagi.
Seterusnya Michaud berkata, “Semua yang tertangkap yang disisakan dari pembantaian pertama, semua yang telah diselamatkan untuk mendapatkan upeti, dibantai dengan kejam. Orang-orang Islam itu dipaksa terjun dari puncak menara dan bumbung-bumbung rumah, mereka dibakar hidup-hidup, diseret dari tempat persembunyian bawah tanah, diseret ke hadapan umum dan dikurbankan di tiang gantungan. Air mata wanita, tangisan kanak-kanak, begitu juga pemandangan dari tempat Yesus Kristus memberikan ampun kepada para algojonya, sama sekali tidak dapat meredhakan nafsu membunuh orang-orang yang menang itu. Penyembelihan itu berlangsung selama seminggu. Beberapa orang yang berhasil melarikan diri, dimusnahkan atau dikurangkan bilangannya dengan perhambaan atau kerja paksa yang mengerikan.”
Gustav Le Bon telah mensifatkan penyembelihan kaum Salib Kristian sebagaimana kata-katanya, “Kaum Salib kita yang ‘bertakwa’ itu tidak memadai dengan melakukan berbagai bentuk kezaliman, kerusakan dan penganiayaan, mereka kemudian mengadakan suatu mesyuarat yang memutuskan supaya dibunuh saja semua penduduk Baitul Maqdis yang terdiri dari kaum Muslimin dan bangsa Yahudi serta orang-orang Kristian yang tidak memberikan pertolongan kepada mereka yang jumlah mencapai 60.000 orang. Orang-orang itu telah dibunuh semua dalam masa 8 hari saja termasuk perempuan, kanak-kanak dan orang tua, tidak seorang pun yang terkecuali.”
Ahli sejarah Kristian yang lain, Mill, mengatakan, “Ketika itu diputuskan bahwa rasa kasihan tidak boleh diperlihatkan terhadap kaum Muslimin. Orang-orang yang kalah itu diheret ke tempat-tempat umum dan dibunuh. Semua kaum wanita yang sedang menyusu, anak-anak gadis dan anak-anak lelaki dibantai dengan kejam. Tanah padang, jalan-jalan, bahkan tempat-tempat yang tidak berpenghuni di Jerusssalem ditaburi oleh mayat-mayat wanita dan lelaki, dan tubuh kanak-kanak yang koyak-koyak. Tidak ada hati yang lebur dalam keharuan atau yang tergerak untuk berbuat kebajikan melihat peristiwa mengerikan itu.”
Kemunculan Panglima Shalahuddin
Jatuhnya kota Suci Baitul Maqdis ke tangan kaum Salib telah mengejutkan para pemimpin Islam. Mereka tidak menyangka kota Suci yang telah dikuasainya selama lebih 500 tahun itu boleh terlepas dalam sekelip mata. Mereka sedar akan kesilapan mereka kerana berpecah belah. Para ulama telah berbincang dengan para Sultan, Emir dan Khalifah agar mengambil berat dalam perkara ini.
Usaha mereka berhasil. Setiap penguasa negara Islam itu bersedia bergabung tenaga untuk merampas balik kota Suci tersebut. Di antara pemimpin yang paling gigih dalam usaha menghalau tentera Salib itu ialah Imamuddin Zanki dan diteruskan oleh anaknya Emir Nuruddin Zanki dengan dibantu oleh panglima Asasuddin Syirkuh. Setelah hampir empat puluh tahun kaum Salib menduduki Baitul Maqdis, Shalahuddin Al-Ayyubi baru lahir ke dunia, yakni pada tahun 1138 Masihi. Keluarga Shalahuddin taat beragama dan berjiwa pahlawan. Ayahnya, Najmuddin Ayyub adalah seorang yang termasyhur dan beliau pulalah yang memberikan pendidikan awal kepada Shalahuddin.
Selain itu, Shalahuddin juga mendapat pendidikan dari bapa saudaranya Asasuddin Syirkuh seorang negarawan dan panglima perang Syria yang telah berhasil mengalahkan tentera Salib sama ada di Syria ataupun di Mesir. Dalam setiap peperangan yang dipimpin oleh panglima Asasuddin, Shalahuddin sentiasa ikut sebagai tentera pejuang sekalipun usianya masih muda.
Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Asasuddin Syirkuh memimpin tenteranya merebut dan menguasai Damsyik. Shalahuddin yang ketika itu baru berusia 16 tahun turut serta sebagai pejuang. Pada tahun 558 H/1163 Masihi, panglima Asasuddin membawa Shalahuddin Al-Ayyubi yang ketika itu berusia 25 tahun untuk menundukkan Daulat Fatimiyah di Mesir yang diperintah oleh Aliran Syiah Ismailiyah yang semakin lemah.Usahanya berhasil. Khalifah Daulat Fatimiyah terakhir Adhid Lidinillah dipaksa oleh Asasuddin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian. Akan tetapi, Wazir besar Shawar merasa cemburu melihat Syirkuh semakin popular di kalangan istana dan rakyat.
Dengan senyap-senyap dia pergi ke Baitul Maqdis dan meminta bantuan dari pasukan Salib untuk menghalau Syirkuh daripada berkuasa di Mesir. Pasukan Salib yang dipimpin oleh King Almeric dari Jerussalem menerima baik jemputan itu. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Asasuddin dengan King Almeric yang berakhir dengan kekalahan Asasuddin. Setelah menerima syarat-syarat damai dari kaum Salib, panglima Asasuddin dan Shalahuddin dibenarkan balik ke Damsyik.
Kerjasama Wazir besar Shawar dengan orang kafir itu telah menimbulkan kemarahan Emir Nuruddin Zanki dan para pemimpin Islam lainnya termasuk Baghdad. Lalu dipersiapkannya tentera yang besar yang tetap  dipimpin oleh panglima Syirkuh dan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menghukum si pengkhianat Shawar. King Almeric terburu-buru menyiapkan pasukannya untuk melindungi Wazir Shawar setelah mendengar kemaraan pasukan Islam. Akan tetapi Panglima Syirkuh kali ini bertindak lebih pantas dan berhasil membinasakan pasukan King Almeric dan menghalaunya dari bumi Mesir dengan aib sekali.
Panglima Shirkuh dan Shalahuddin terus mara ke ibu kota Kaherah dan mendapat tentangan dari pasukan Wazir Shawar. Akan tetapi pasukan Shawar hanya dapat bertahan sebentar saja, dia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Khalifah Al-Adhid Lidinillah terpaksa menerima dan menyambut kedatangan panglima Syirkuh buat kali kedua.
Suatu hari panglima Shalahuddin Al-Ayyubi berziarah ke kuburan seorang wali Allah di Mesir, ternyata Wazir Besar Shawar dijumpai bersembunyi di situ. Shalahuddin segera menangkap Shawar, dibawa ke istana dan kemudian dihukum bunuh. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Asasuddin Syirkuh menjadi Wazir Besar menggantikan Shawar. Wazir Baru itu segera melakukan perbaikan dan pembersihan pada setiap institusi kerajaan secara berperingkat. Sementara anak saudaranya, panglima Shalahuddin Al-Ayyubi diperintahkan membawa pasukannya mengadakan pembersihan di kota-kota sepanjang sungai Nil sehingga Assuan di sebelah utara dan bandar-bandar lain termasuk bandar perdagangan Iskandariah.
Memegang Kekuasaan
Wazir Besar Syirkuh tidak lama memegang jawatannya, kerana beliau wafat pada tahun 565 H/1169 M. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi Wazir Besar menggantikan Syirkuh dengan mendapat persetujuan pembesar-pembesar Kurdi dan Turki. Walaupun berkhidmat di bawah Khalifah Daulat Fatimiah, Shalahuddin tetap  menganggap Emir Nuruddin Zanki sebagai ketuanya.
Nuruddin Zanki berulang kali mendesak Shahalahuddin agar menangkap Khalifah Al-Adhid dan mengakhiri kekuasaan Daulat Fatimiah untuk seterusnya diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah di Baghdad. Akan tetapi Shalahuddin tidak mahu bertindak terburu-buru, beliau memperhatikan keadaan sekelilingnya sehingga musuh-musuh dalam selimut betul-betul lumpuh.
Barulah pada tahun 567 H/1171 Masihi, Shalahuddin mengumumkan penutupan Daulat Fatimiah dan kekuasaan diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah. Maka doa untuk Khalifah Al-Adhid pada khutbah Jumaat hari itu telah ditukar kepada doa untuk Khalifah Al-Mustadhi dari Daulat Abbasiah. Ketika pengumuman peralihan kuasa itu dibuat, Khalifah Al-Adhid sedang sakit kuat, sehingga beliau tidak mengetahui perubahan besar yang berlaku di dalam negerinya dan tidak mendengar bahawa Khatib Jumaat sudah tidak mendoakan dirinya lagi. Sehari selepas pengumuman itu, Khalifah Al-Adhid wafat dan dikebumikan sebagaimana kedudukan sebelumnya, yakni sebagai Khalifah.
Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulat Fatimyah yang dikuasai oleh kaum Syi’ah selama 270 tahun. Keadaan ini sememangnya telah lama ditunggu-tunggu oleh golongan Ahlussunnah di seluruh negara Islam lebih-lebih lagi di Mesir sendiri. Apalagi setelah Wazir Besar Shawar berkomplot dengan kaum Salib musuh Islam. Pengembalian kekuasaan kepada golongan Sunni itu telah disambut meriah di seluruh wilayah-wilayah Islam, lebih-lebih di Baghdad dan Syiria atas restu Khalifah Al-Mustadhi dan Emir Nuruddin Zanki.
Mereka sangat berterima kasih kepada Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi yang dengan kebijaksanaan dan kepintarannya telah menukar suasana itu secara aman dan damai. Serentak dengan itu pula, Wazir Besar Shalahuddin Al-Ayyubi telah merasmikan Universiti Al-Azhar yang selama ini dikenal sebagai pusat pengajian Syiah kepada pusat pengajian Ahlussunnah Wal Jamaah. Semoga Allah membalas jasa-jasa Shalahuddin.
Menyatupadukan Kuasa-Kuasa Islam
Walaupun sangat pintar dan bijak mengatur strategi dan berani di medan tempur, Shalahuddin berhati lembut, tidak mahu menipu atasan demi  kekuasaan dunia. Beliau tetap  setia pada atasannya, tidak mahu merampas kuasa untuk kepentingan peribadi. Kerana apa yang dikerjakannya selama ini hanyalah mencari peluang untuk menghalau tentera Salib dari bumi Jerussalem. Untuk tujuan ini, beliau berusaha menyatu padukan wilayah-wilyah Islam terlebih dahulu, kemudian menghapuskan para pengkhianat agama dan negara agar peristiwa Wazir Besar Shawar tidak berulang lagi.
Di Mesir, beliau telah berkuasa penuh, tapi masih tetap  taat setia pada kepimpinan Nuruddin Zanki dan Khalifah di Baghdad. Tahun 1173 M, Emir Nuruddin Zanki wafat dan digantikan oleh puteranya Ismail yang ketika itu baru berusia 11 tahun dan bergelar Mulk al Shalih. Para ulama dan pembesar menginginkan agar Emir Salahudin mengambil alih kuasa kerana tidak suka kepada Mulk al-Shalih keran selalu cuai melaksanakan tanggungjawabnya dan suka bersenang-senang. Akan tetapi Shalahuddin tetap  taat setia dan mendoakan Mulk al Saleh dalam setiap khutbah Jumaat, bahkan mengabadikannya pada mata wang syiling.
Apabila Damsyik terdedah pada serangan kaum Salib, barulah Shalahudin menggerakkan pasukannya ke Syiria untuk mempertahankan kota itu daripada jatuh. Tidak lama kemudian Ismail wafat, maka Shalahuddin menyatukan Syria dengan Mesir dan menubuhkan Emirat Al-Ayyubiyah dengan beliau sendiri sebagai Emirnya yang pertama. Tiada berapa lama kemudian, Sultan Shalahuddin dapat menggabungkan negeri-negeri An-Nubah, Sudan, Yaman dan Hijaz ke dalam kekuasaannya yang besar. Negara di Afirka yang telah diduduki oleh askar Salib dari Normandy, juga telah dapat direbutnya dalam masa yang singkat. Dengan ini kekuasaan Shalahuddin telah cukup   besar dan kekuatan tenteranya cukup   ramai untuk mengusir tentera kafir Kristian yang menduduki Baitul Maqdis selama berpuluh tahun.
Sifatnya yang lemah lembut, zuhud, wara’ dan sederhana membuat kaum Muslimin di bawah kekuasaannya sangat mencintainya. Demikian juga para ulama sentiasa mendoakannya agar cita-cita sucinya untuk merampas semula Tanah Suci berhasil dengan segera.
Perjuangan Merebut Baitul Maqdis
Setelah merasa kuat, Sultan Shalahuddin menumpukan perhatiannya untuk memusnahkan tentera Salib yang menduduki Baitul Maqdis dan merebut kota Suci itu semula. Banyak rintangan dan problem yang dialami oleh Sultan sebelum maksudnya tercapai. Siasah yang mula-mula dijalankannya adalah mengajak tentera Salib untuk berdamai. Pada lahirnya, kaum Salib memandang bahawa Shalahuddin telah menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong. Sultan sudah menjangka bahawa orang-orang kafir Kristian itu akan mengkhianati perjanjian, maka ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan. Untuk ini, beliau telah membuat persiapan secukupnya.
Ternyata memang betul, baru sebentar perjanjian ditandatangani, kaum Salib telah mengadakan pelanggaran. Maka Sultan Shalahuddin, segera bergerak melancarkan serangan, tapi kali ini masih gagal dan beliau sendiri hampir kena tawan. Beliau kembali ke markasnya dan menyusun kekuatan yang lebih besar.
Suatu kejadian yang mengejutkan Sultan dalam suasana perdamaian adalah tindakan seorang panglima Salib Count Rainald de Chatillon yang bergerak dengan pasukannya untuk menyerang kota Suci Makkah dan Madinah. Akan tetapi pasukan ini hancur binasa digempur mujahid Islam di laut Merah dan Count Rainald dan sisa pasukannya balik ke Jerussalem. Dalam perjalanan, mereka telah berjumpa  dengan satu iring-iringan kafilah kaum Muslimin yang didalamnya terdapat seorang saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa berfikir panjang, Count dan kuncu-kuncunya menyerang kafilah tersebut dan menawan mereka termasuk saudara perempuan kepada Shalahuddin.
Dengan angkuh Count berkata, “Apakah Muhammad, Nabi mereka itu mampu datang untuk menyelamatkan mereka?”
Seorang anggota kafilah yang dapat meloloskan diri terus lari dan melapor kepada Sultan apa yang telah terjadi. Sultan sangat marah terhadap pencabulan gencatan senjata itu dan mengirim perutusan ke Jerussalem agar semua tawanan dibebaskan. Tapi mereka tidak memberikan jawapan. Ekoran kejadian ini, Sultan keluar membawa pasukannya untuk menghukum kaum Salib yang sering mengkhianati janji itu. Terjadilah pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan Perang Hittin.
Dalam pertempuran ini, Shalahuddin menang besar. Pasukan musuh yang berjumlah 45,000 orang hancur binasa dan hanya tinggal beberapa ribu saja yang sebagian besarnya menjadi tawanan termasuk Count Rainald de Chatillon sendiri. Semuanya diangkut ke Damaskus. Count Rainald yang telah menawan saudara perempuan Sultan dan mempersendakan Nabi Muhammad itu digiring ke hadapan beliau.
“Nah, bagaimana jadinya yang telah nampak oleh engkau sekarang? Apakah saya tidak cukup menjadi pengganti Nabi Besar Muhammad untuk melakukan pembalasan terhadap berbagai penghinaan engkau itu?” tanya Sultan Shalahuddin.
Shalahuddin mengajak  Count agar masuk Islam, tapi dia tidak mau. Maka dia pun dihukum bunuh karena telah menghina Nabi Muhammad.
Merebut Baitul Maqdis
Setelah melalui berbagai peperangan dan menaklukkan berbagai benteng dan kota, sampailah Sultan Shalahuddin pada matlamat utamanya iaitu merebut Baitul Maqdis. Kini beliau mengepung Jerussalem selama empat puluh hari membuat penduduk di dalam kota itu tidak dapat berbuat apa-apa dan kekurangan keperluan asas. Waktu itu Jerussalem dipenuhi dengan kaum pelarian dan orang-orang yang selamat dalam perang Hittin. Tentera pertahanannya sendiri tidak kurang dari 60.000 orang.
Pada mulanya Sultan menyerukan seruan agar kota Suci itu diserahkan secara damai. Beliau tidak ingin bertindak seperti yang dilakukan oleh Godfrey dan orang-orangnya pada tahun 1099 untuk membalas dendam. Akan tetapi pihak Kristian telah menolak tawaran baik dari Sultan, bahkan mereka mengangkat Komandan Perang untuk mempertahankan kota itu. Kerana mereka menolak seruan, Sultan Shalahuddin pun bersumpah akan membunuh semua orang Kristian di dalam kota itu sebagai membalas dendam ke atas peristiwa 90 tahun yang lalu. Mulailah pasukan kaum Muslimin melancarkan serangan ke atas kota itu dengan anak panah dan manjanik.
Kaum Salib membalas serangan itu dari dalam benteng. Setelah berlangsung serangan selama empat belas hari, kaum Salib melihat bahawa pintu benteng hampir musnah oleh serangan kaum Muslimin. Para pemimpin kaum Salib mulai merasa takut melihat kegigihan dan kekuatan pasukan Muslim yang hanya tinggal menunggu masa untuk melanggar masuk. Beberapa pemimpin Kristian telah keluar menemui Sultan Shalahuddin menyatakan hasratnya untuk menyerahkan kota Suci secara aman dan minta agar nyawa mereka diselamatkan.
Akan tetapi Sultan menolak sambil berkata, “Aku tidak akan menaklukkan kota ini kecuali dengan kekerasan sebagaimana kamu dahulu menaklukinya dengan kekerasan. Aku tidak akan membiarkan seorang Kristian pun melainkan akan kubunuh sebagaimana engkau membunuh semua kaum Muslimin di dalam kota ini dahulu.”
Setelah usaha diplomatik mereka tidak berhasil, Datuk Bandar Jerussalem sendiri datang menghadap Sultan dengan merendah diri dan minta dikasihani, memujuk dan merayu dengan segala cara. Sultan Shalahuddin tidak menjawabnya.
Akhirnya ketua Kristian itu berkata, “Jika tuan tidak mahu berdamai dengan kami, kami akan balik dan membunuh semua tahanan (terdiri dari kaum Muslimin seramai 4000 orang) yang ada pada kami. Kami juga akan membunuh anak cucu kami dan perempuan-perempuan kami. Setelah itu kami akan binasakan rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang indah-indah, semua harta dan perhiasan yang ada pada kami akan dibakar. Kami juga akan memusnahkan Kubah Shahra’, kami akan hancurkan semua yang ada sehingga tidak ada apa-apa yang boleh dimanfaatkan lagi. Selepas itu, kami akan keluar untuk berperang mati-matian, kerana sudah tidak ada apa-apa lagi yang kami harapkan selepas ini. Tidak seorang pun boleh membunuh kami sehingga sebilangan orang-orang tuan terbunuh terlebih dahulu. Nah, jika demikian keadaannya, kebaikan apalagi yang tuan boleh harapkan?”
Setelah mendengar kata-kata nekat dan ugutan itu, Sultan Shalahuddin menjadi lembut dan kasihan dan bersedia untuk memberikan keamanan. Beliau meminta nasihat para ulama yang mendampinginya mengenai sumpah berat yang telah diucapkannya. Para ulama mengatakan bahawa beliau mesti menebus sumpahnya dengan membayar Kifarat sebagaimana yang telah disyariatkan.
Maka berlangsunglah penyerahan kota secara aman dengan syarat setiap penduduk mesti membayar wang tebusan. Bagi lelaki wajib membayar sepuluh dinar, perempuan lima dinar dan kanak-kanak dua dinar sahaja. Barangsiapa yang tidak mampu membayar tebusan, akan menjadi tawanan kaum Muslimin dan berkedudukan sebagai hamba. Semua rumah, senjata dan alat-alat peperangan lainnya mesti ditinggalkan untuk kaum Muslimin. Mereka boleh pergi ke mana-mana tempat yang aman untuk mereka. Mereka diberi tempo selama empat puluh hari untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan Barangsiapa yang tidak sanggup  menunaikannya sehinnga lewat dari waktu itu, ia akan menjadi tawanan. Ternyata ada 16,000 orang Kristian yang tidak sanggup  membayar wang tebusan. Semua mereka ditahan sebagai hamba.
Maka pada hari Jumaat 27 Rajab 583 Hijrah, Sultan Shalahuddin bersama kaum Muslimin memasuki Baitul Maqdis. Mereka melaungkan “Allahu Akbar” dan bersyukur kehadirat Allah s.w.t. Air mata kegembiraan menitis di setiap pipi kaum Muslimin sebaik saja memasuki kota itu. Para ulama dan solehin datang mengucapkan tahniah kepada Sultan Shalahuddin di atas perjuangannya yang telah berhasil. Apalagi tarikh tersebut bersamaan dengan tarikh Isra’ Nabi S.A.W dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Pada  hari Jumaat tersebut, kaum Muslimin tidak sempat melaksankan solat Jumaat di Masjidil Aqsa kerana sempitnya waktu. Mereka terpaksa membersihkan Masjid Suci itu dari babi, kayu-kayu salib, gambar-gambar rahib dan patung-patung yang dipertuhan oleh kaum Kristian. Barulah pada Jumaat berikutnya mereka melaksanakan solat Jumaat di Masjidil Aqsa buat pertama kalinya dalam masa 92 tahun. Kadi Muhyiddin bin Muhammad bin Ali bin Zaki telah bertindak selaku khatib atas izin Sultan Shalahuddin.
Kejatuhan Jerussalem ke tangan kaum Muslimin telah membuat Eropah marah. Mereka melancarkan kutipan yang disebut “Saladin tithe”, yakni derma wajib untuk melawan Shalahuddin yang hasilnya digunakan untuk membiayai perang Salib. Dengan angkatan perang yang besar, beberapa orang raja Eropah berangkat untuk merebut kota Suci itu semula. Maka terjadilah perang Salib ketiga yang sangat sengit. Namun demikian, Shalahuddin masih dapat mempertahankan Jerussalem sehingga perang tamat. Setahun selepas perang Salib ke tiga itu, Sultan Shalahuddin pulang kerahmatullah. Semoga Allah mencucuri rahmat ke atasnya, amin.
Pribadi Seorang Panglima
Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi terbilang sebagai pahlawan dan Panglima Islam yang besar. Pada beliau terkumpul sifat-sifat berani, wara’, zuhud, khusyu’, pemurah, pemaaf, tegas dan lain-lain sifat terpuji. Para ulama dan penulis sejarah telah memberikan kepujian yang melangit. Sifat pemurah dan pemaafnya diakui oleh lawan mahupun kawan.
Seorang penulis sejarah mengatakan, “Hari kematiannya merupakan kehilangan besar bagi agama Islam dan kaum Muslimin, kerana mereka tidak pernah menderita semenjak kehilangan keempat-empat Khalifah yang pertama (Khulafaurrasyidin). Istana, kerajaan dan dunia diliputi oleh wajah-wajah yang tertunduk, seluruh kota terbenam dalam dukacita, dan rakyat mengikuti keranda jenazahnya dengan tangisan dan ratapan.”
Sultan Shalahuddin adalah seorang pahlawan yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras siang dan malam untuk Islam. Hidup  nya sangat sederhana. Minumnya hanya air kosong, makanannya sederhana, pakaiannya dari jenis yang kasar. Beliau sentiasa menjaga waktu-waktu solat dan mengerjakannya secara berjamaah. Dikatakan bahawa beliau sepanjang hayatnya tidak pernah terlepas dari mengerjakan solat jamaah, bahkan ketika sakit yang membawa pada ajalnya, beliau masih tetap  mengerjakan solat berjamaah. Sebaik saja imam masuk berdiri di tempatnya, beliau sudah siap di dalam saf. Beliau suka mendengarkan bacaan Al-Quran, Hadis dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang Hadis, beliau memang mendengarkannya secara teratur, sehingga beliau boleh mengenal jenis-jenis hadis. Hatinya sangat lembut dan pemurah, sering menangis apabila mendengarkan hadis.
Di dalam buku The Historians’ History of the Worlddisebutkan sifat-sifat Shalahuddin sebagai berikut, “Keberanian dan keberhasilan Sultan Shalahuddin itu terjelma seluruhnya pada perkembangan keperibadian yang luar biasa. Sama seperti halnya dengan Emir Imamuddin Zanki dan Emir Nuruddin Zanki, beliau juga merupakan seorang Muslim yang taat. Sudah menjadi kebiasaan bagi Sultan Shalahuddin membacakan Kitab Suci Al-Quran kepada pasukannya menjelang pertempuran berlangsung. Beliau juga sangat disiplin mengqada setiap puasanya yang tertinggal dan tidak pernah lalai mengerjakan solat lima waktu sampai pada akhir hayatnya. Minumannya tidak lain dari air kosong saja, memakai pakaian yang terbuat dari bulu yang kasar, dan mengizinkan dirinya untuk dipanggil ke depan pengadilan. Beliau mengajar sendiri anak-anaknya mengenai agama Islam.......”
Seluruh kaum Muslimin yang menyaksikan kewafatannya menitiskan air mata apabila Sultan yang mengepalai negara yang terbentang luas dari Asia hingga ke Afrika itu hanya meninggalkan warisan 1 dinar dan 36 dirham. Tidak meninggalkan emas, tidak punya tanah atau kebun. Padahal berkhidmat pada kerajaan berpuluh tahun dan memegang jawatan sebagai panglima perang dan Menteri Besar sebelum menubuhkan Emirat Ayyubiyah.
Kain yang dibuat kafannya adalah betul-betul dari warisan beliau yang jelas-jelas halal dan sangat sederhana. Anak beliau yang bernama Fadhal telah masuk ke liang lahad meletakkan jenazah ayahnya. Dikatakan bahawa beliau dikebumikan bersama-sama pedangnya yang dipergunakan dalam setiap peperangan agar dapat menjadi saksi dan dijadikannya tongkat kelak pada hari kiamat. Rahimahullahu anh.

Ketika buku ini ditulis, Baitul Maqdis sedang berada di dalam kekuasaan Zionis Yahudi dengan negaranya Israil yang dipaksakan. Jika sekiranya ada kepala negara yang bersifat seperti Sultan Shalahuddin di Timur Tengah sana, insya Allah Baitul Maqdis dapat direbut semula oleh kaum Muslimin.***
Continue reading →
Thursday, May 4, 2017

Apa itu Agama ISLAM ?

0 komentar
AGAMA ISLAM !

  Agama Islam lahir di awal abad ke-7 Masehi, oleh seorang yang bernama Muhammad. Dia mengaku mendapat kunjungan dari malaikat Jibril. Selama kunjungan malaikat ini, yang berlangsung selama 23 tahun sampai wafatnya Muhammad, malaikat ini dipercayai mewahyukan kepadanya firman Allah. 

Wahyu yang didiktekan ini nantinya akan menjadi isi Qur’an, kitab suci Islam. Islam mengajarkan bahwa Qur’an merupakan otoritas tertinggi dan wahyu terakhir Allah. 


Orang-orang Muslim, penganut Islam, percaya bahwa Qur’an itu merupakan firman Allah yang terakhir dan sempurna. Selain itu, banyak orang Muslim yang menolak Qur’an dalam versi bahasa lainnya. Terjemahan bukanlah versi yang sah dari Qur’an; yang hanya tersedia dalam bahasa Arab. 


Meskipun Qur’an merupakan kitab suci yang utama, Sunnah dipandang sebagai sumber kedua untuk pengajaran agama. Sunnah ditulis oleh sahabat-sahabat Muhammad tentang apa yang dikatakan, dilakukan dan disetujui oleh Muhammad. 


Kepercayaan utama Islam itu menyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; yang esa dan sejati, dan Muhammad merupakan rasul Allah. Cukup dengan mengucapkan kepercayaan ini, seseorang langsung dianggap memeluk agama Islam. 


Kata “Muslim” itu sendiri berarti "orang yang takluk kepada Allah.” Islam menganggap diri sebagai satu-satunya agama yang benar yang menjadi sumber dari semua agama lain, termasuk Yudaisme dan kekristenan. 


Orang-orang Muslim mendasari kehidupan mereka pada lima rukun: 


1. Pernyataan iman/syahadat: "Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan (Rasul) Allah." 


2. Sholat: sholat lima kali dalam sehari 


3. Zakat: manusia harus memberi kepada mereka yang miskin, karena semuanya yang ada pada mereka merupakan pemberian Allah. 


4. Puasa: selain berpuasa pada waktu tertentu, semua orang Muslim harus berpuasa saat merayakan Ramadan (bulan kesembilan dalam kalender Islam). 


5. Haji: berziarah ke Mekkah paling sedikit sekali seumur hidup (pada bulan kedua belas dalam kalender Islam). 


Kelima dasar ini, kerangka dari ketaatan orang Muslim, diperlakukan dengan serius dan harafiah. Masuknya seorang Muslim ke firdaus itu dianggap bergantung pada ketaatannya kepada kelima rukun ini. 


Dalam hubungannya dengan kekristenan, Islam memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan yang mendasar. 


Sama seperti kekristenan, Islam bersifat monotheistik, namun berlawanan dengan kekristenan, Islam menolak konsep Tritunggal. Islam menerima bagian-bagian tertentu yang tertulis di Alkitab, seperti Taurat dan Injil, namun menolak bagian lainnya sebagai fitnah dan bukan diilhamkan dari Allah. 


Islam mengklaim bahwa Yesus merupakan seorang nabi, bukan Anak Allah. Orang Islam percaya satu-satunya Tuhan itu adalah Allah, karena itu, bagaimana mungkin Dia bisa punya Anak? Islam menganggap Yesus, meskipun lahir dari anak perawan, diciptakan sama halnya dengan Adam, dari debu tanah. 


Orang-orang Muslim percaya bahwa Yesus tidak pernah mati di salib; dan karena itu mereka menolak salah satu pengajaran utama keKristenan. 


Akhirnya, Islam mengajarkan bahwa Firdaus bisa dicapai melalui perbuatan baik dan ketaatan kepada Qur’an. Sebaliknya, Alkitab, mengungkapkan bahwa manusia tidak dapat memenuhi standar kekudusan Allah. Hanya karena anugerah dan kasih-Nya, orang-orang berdosa dapat diselamatkan melalui iman di dalam Kristus (Efesus 2:8-9).


Jelas, bahwa tidak mungkin Islam dan kekristenan bisa sama-sama benar. Cuma bisa salah satu, Yesus atau Muhammad, merupakan nabi terbesar. Cuma bisa salah satu, Alkitab atau Qur’an, yang merupakan Firman Allah. 


Keselamatan diperoleh manusia melalui imannya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, atau dengan menaati kelima rukun. 


Sekali lagi, tidak mungkin kedua agama ini bisa sama benarnya. Kebenaran ini, memisahkan kedua agama dalam aspek-aspek penting, yang tentunya akan memiliki konsekuensi kekal.
Continue reading →
Wednesday, April 26, 2017

Hukum alat musik secara ISLAM

0 komentar

Hukum alat musik dalam perspektif Syara`(agama)

 Alat musik telah ada sejak dahulu bahkan menurut satu riwayat `ud (kecapi) itu diciptakan oleh anak nabi Adam yang bernama Malik bin Adam . Oleh karena itu pembahasan tentang alat musik bukanlah hal yang baru. Para ulama semenjak dahulu telah menerangkan hukum beberapa alat-alat musik yang ada pada masa mereka. Di bawah ini kami sajikan beberapa jenis alat musik beserta tanggapan para ulama tentang hukumnya.

1. Daff/Duff (Rebana )

 Dalam mazhab Syafii terjadi khilaf para ulama tentang hukum menggunakan rebana.

 - menurut pendapat yang mu`tamad hukumnya mubah baik pada acara perkawinan, khitan ataupun acara lainnya. tetapi yang lebih baik meninggalkannya. 

- Haram hukumnya pada selain acara perkawinan dan khitan. Ini adalah pendapat Al Baghwy didalam kitab Tahzib, Abu Ishaq Asy Syirazi didalam Al Muhazzab, Ibnu Abi `Ashrun dan ulama lainnya.

 - Mubah pada perkawinan dan khitan, sedangkan pada selain keduanya makruh. Ini adalah pendapat Abu Thayyib di dalam kitab Ta`liqnya.

 - Menurut pendapat ulama mutakhirin disunatkan pada acara perkawinan dan khitan. Ini adalah pendapt yang dipegang oleh Al Baghwy dalam kitab syarah sunnahnya. Didalam Fatawy Abi Al Laisty As Samarqandy Al Hanafy disebutkan bahwa memukul rebana pada selain perkawinan dan khitan hukumnya khilaf para ulama:

 - Makruh

 - Mubah mutlaq. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Haramain dan Imam Ghazaly. 

- Mubah pada perkawinan, hari raya, kedatangan orang dari tempat yang jauh dan setiap kegembiraan. Ini adalah pendapat Imam Ghazaly didalam Ihya, Al Qurthuby Al Maliky didalam Kasyful Qina` Para ulama yang mengatakan sunat menggunakan rebana pada acara perkawinan dan khitan berpegang kepada satu hadis yang diriwayatkan oleh At Turmuzi.

 فصل ما بين الحلال و الحرم الضرب بالدف

 Artinya "pemisah antara halal dan haram adalah memukul rebana" 

Dan satu hadis yang diriwaytkan oleh Ibn Hibban:

 أنه صلى الله عليه وسلم لما رجع إلى المدينة من بعض مغازيه جاءته جارية سوداء فقالت يا رسول الله إني نذرت إن ردك الله سالما أن أضرب بين يديك بالدف وأتغنى فقال لها إن كنت نذرت فأوف بنذرك رواهما ابن حبان وغيره

 Artinya: Sesungguhnya Rasulullah SAW manakala kembali dari satu peperangan, datanglah hamba sahaya hitam dan berkata Ya Rasulullah Saya bernazar jika Allah mengembalikan kamu dengan selamat, maka aku akan memukul rebana dan bernyanyi, Rasulullah berkata kepadanya jika kamu telah bernazar maka sempurnakanlah nazarmu.(H.R Ibnu Hibban)

 Ibnu Hibban telah menggapgap shaheh kedua hadis tersebut. Selain berdasarkan hadis tersebut ada juga hadis lainnya tetapi sanadnya dhaif:

 إعلنوا بالنكاح واضربوا عليه بالغزبل 

Para ulama yang berpendapat mubah mengatakan bahwa amar pada hadis tersebut mengandung makna ibahah karena pada dasarnya rebana tersebut termasuk kedalam katagori lahwi yang tercela. Selain itu didalam satu riwayat disebutkan Abu Bakar ra menamai rebana dihadapan Rasulullah dengan "nyanyian iblis" sedangkan Rasullah tidak mengingkarinya.

 Para ulama juga berselisih pendapat bila rebana tersebut memakai "jalajil"(kericingan dipinggir rebana). Menurut pendapat yang Ashah dibolehkan.

 Gambar.Daf memakai jalajil 

2 . GENDRANG 

Syaikhani (Imam Nawawy dan Imam Rafii) dan ulama lainnya mengatakan: tidak diharamkan memukul gendrang kecuali kubah (dinamakan juga dengan darbikah) yaitu gendrang yang panjang dan dua tepinya lebih luas dari tengahnya. Tetapi ibnu Hajar mengatakan bahwa pada masa beliau salah satu ujungnya lebih besar, sedangkan ujungnya yang lain lebih kecil dan tidak tertutup. Alasan diharamkan thabul kubah adalah karena ia merupakan alat yang sering digunakan oleh kaum mukhannisin (kaum yang menyerupakan dirinya dengan wanita, waria) Maka menggunakannya akan dikatakan menyerupakan diri dengan kaum fasiq. Padahal hal ini sangat dilarang sebagimana dalam satu hadis Rasulullah berkata:

 من تشبه بقوم فهو منهم . رواه أبو داود

 Artinya : Barangsiapa menyerupakan dirinya dengan satu kaum maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.

 Sebagian ulama mengharamkan genderang (thabul) tanpa mengaitkan dengan thabul kubah kecuali daff (rebana). Ini adalah pendapat Qadhi Husain, Al Bandanijy, Al Hulaimy, Abu Ishaq Asy Syirazy, Ar Rauyani, Al Baghwy, Al Khawarijmy, Al Imrany dan beberapa ulama lainnya. Walaupun demikian mereka membolehkan thabul (genderang) yang dipakai pada hari raya, peperangan dan rombongan jamaah haji. Sedangkan sebagian ulama lainnya mengatakan yang diharamkan adalah thabul lahwy. Sedangkan Syaikhani (Imam Nawawy dan Imam Rafii) dan beberapa ulama lainnya mengatakan tidak diharamkan thabul kecuali kubah. Mengenai perbedaan ini Ibnu Ruf`ah mengatakan bahwa para ashhab (ulama yang hidup pada priode 400 tahun hijriyah) telah menjelaskan bahwa dibolehkan gendrang peperangan. Maka Alif lam yang ada pada kalimat thabul pada kalam ulama yang mengharamkan thabul adalah alim lam `Ahdi, yang dimaksud dengan thabul disitu adalah thabul yang dipergunakan oleh kuam mukhannisin (waria). Demikian juga yang dijelaskan oleh Al Mawardi. Maka antara pendapat yang mengaharamkan seluruh thabul kecuali rebana dan pendapat yang membolehkan seluruh thabul kecuali kubah tidaklah terjadi pertentangan. Karena yang dimaksud dengan thabul pada pendapat pertama adalah thabul lahwi yang tak lain adalah kubah dengan dalil mereka sepakat membolehkan gendrang peperangan.

Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa keharaman kubah merupakan ijmak para ulama. Syaikh Abi Muhammad Al Juwainy mengatakan bahwa para ulama telah sepakat ( ijmak;konsesus ) mengharamkan kubah karena ada hadis yang mencela orang orang yang memukul dan mendengar kubah.Ulama lain yang menaqal ijmak ini adalah Al Qurthuby, beliau mengatakan " tidak diperselisihkan tentang keharaman mendengarnya dan tidak pernah saya dengar para ulama salaf dan khalaf yang yang diterima pendapatnya yang membolehkannya ( kubah)"

 Adapun beberapa hadis Nabi yang melarang kubah antara lain:

 - Hadis riwayat Abi Daud

 عن عبد الله بن عمرو أن نبى الله -صلى الله عليه وسلم- نهى عن الخمر والميسر والكوبة والغبيراء 

Artinya: Dari Abdullah bin Umar "bahwasanya Nabi Saw melarang khamar, judi, kubah dan `ubaira`(sejenis minuman keras dari jagung).

 - Hadis riwayat Ad Dalamy 

أمرت بهدم الطبل والمزمار 

Artinya: Aku diperintahkan untuk menghancurkan thabul( gendrang) dan mizmar(Seruling).

 - Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan Baihaqi dari Ibnu Abbas ra

 إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الله عز وجل حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة

 Artinya: bahwasanya Rasulullah Saw berkata:Allah azza wajalla telah mengharamkan kepada kamu khamar, judi, dan kubah.

 Al Baihaqy dalam sunan Kubranya menerangkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Sufyan dari Ali bin Bazimah. Sufyan bertanya kepada Ali :"Apa yang dimaksud dengan kubah? Ali bin Bazimah menjawab " Thabul". Karena ini merupakan tafsir dari perawi maka tafsir kubah dengan thabul lebih didahulukan dengan tafsir lainnya yang mengatakan bahwa makna kubah adalah nard (dadu). Dengan ini terjawablah apa yang disebutkan oleh Imam Az Zabidy didalam syarah Ihya, Ittihaf Sadah Al Muttaqin (hal 592 juzuk 7cet. Darul Kutub Ilmiyah thn 2005) - sebagai dalil bagi orang orang yang membolehkan kubah- "manakala ikhtilaflah para ahli loghat tentang makna kubah, maka gugurlah keabsahan berhujjah dengan hadis-hadis yang menyebutkan kubah".

3 . Autar dan Mi`zaf (gitar dan jenis alat musik b

ersenar)

 Para ulama telah sepakat mengharamkan seluruh jenis autar dan mi`zaf (alat musik petik) seperti thanbur,`ud (sejenis kecapi; lute), shanj yang bersenar, rubab, kaminjah (biola), santhir, darbij dan lainnya. Ibnu hajar mengatakan "bila ada orang yang mengatakan bahwa pada masalah ini terjadi khilaf diantara para ulama maka ia telah tersalah dan telah dikuasai oleh hawa nafsunya sehingga membuatnya buta dan tuli"

 Diantara para ulama yang menaqal ijmak ulama tentang haramnya alat musik ini adalah Abu Abbas Al Qurthuby, Abu Fattah Salim bin Ayyub Ar-Razy. Al Qurthuby mengatakan "Adapun ma`azif, Autar (alat musik petik), dan kubah tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama tentang keharaman mendengarnya dan tidak pernah saya dengar para ulama salaf atau khalaf yang membolehkannya".

 Ada sebagian orang yang menolak ijmak tersebut dengan membawa dalil perkataan Al Mawardi di dalam Al- Hawi bahwa para ulama mengkhususkan `ud (kecapi) dengan hukum mubah dibandingkan dengan autar lainnya karena ia bisa menghilangkan kegundahan dan menambah kegembiraan dan juga bisa menjadi penyembuh dari penyakit. Selain itu ibnu Thahir menghikayahkan ijmak para ulama Madinah dan pendapat Abi Ishaq Asy Syirazy yang menbolehkannya bahkan Ibnu Thahir juga mengatakan bahwa Abu Ishaq Asy Syirazi juga mendengarkan ud (kecapi). Ia ( Ibnu Thahir) berkata "ini adalah yang masyhur dalam mazhabnya (Abu Ishaq) dan tak ada seorang ulama pun yang semasa dengan beliau yang mengingkarinya".

 Ibnu Hajar Al Haitamy mengatakan bahwa penolakan ijmak ini adalah suatu yang bathil dengan beberapa alasan:

 - Al Mawardy menyebutkan pendapat tersebut didalam kitabnya Al Hawy tak lain karena ingin menolaknya, karena beliau berkata sesudah itu هذا لا وجه له . - Argumen yang menbolehkannya, karena ia bisa menyembuhkan penyakit, maka hal ini tertolak dengan dua alasan:

 1. Bila memang dibolehkan karena menjadi obat, maka semestinya dikaitkan kebolehannya kepada orang yang sedang sakit yang bisa terbantu hanya dengan alat tersebut.

 2. Bila memang dibolehkan karena dharurah, maka tidak sepatutnya pendapat tersebut disebut sebagai wajh( yang menunjuki pendapat tersebut tidak kuat) tetapi di jazamkan kepada boleh sebagaimana halnya berobat dengan benda najis. Al Hulaimy menjazamkan bahwa alat musik bila bisa bermanfaat menyembuhkan orang sakit maka terhadapnya dibolehkan untuk mendengarnya. Tetapi hal ini harus berdasarkan kesaksian dua orang dokter yang adil bahwa penyakitnya hanya bisa disembuhkan dengan mendengarkan alat musik tersebut.

 - Adapun ijmak ulama Madinah yang dinaqal oleh Ibnu Thahir, ini merupakan dusta dan khurafat dari Ibnu Thahir bahkan Ibnu thahir termasuk orang yang meriwayatkan hadis – hadis maudhu`. Al Azra`i berkata: " ini adalah kecerobohan Ibnu Thahir. Di Madinah hal ini hanya dilakukan oleh orang – orang bodoh dan bathil.

 - Demikian juga perkataannya yang mengatakan bahwa Abu Ishaq Asy Syirazy membolehkan dan juga mendengarnya, juga merupakan dusta belaka. Karena Abu Ishaq sendiri didalam kitab Al Muhazzab mengqatha` diharamkan `ud (kecapi).

 Abu Qasim Ad Daula`i mengarang satu kitab yang khusus menerangkan keharaman `ud (kecapi) dilengkapi dengan dalil yang panjang.

 Adapun hadis hadis yang melarang menggunakan autar dan mi`zaf antara lain:

 - Hadis riwayat Bukhary.

 ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف 

Artinya:

 Akan ada diantara ummatku kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar dan ma`azif. Imam Syarbainy menyebutkan didalam kitabnya, Mughni Muhtaj: "berkatalah Al Jauhary dan yang lainnya'' Al Ma`azif adalah alat lahwi, termasuk kedalamnya rubab dan jank (chang)". Dalam qamus mu`jam fuqaha` disebutkan arti ma`azif adalah alat musik yang memiliki senar seperti ud (kecapi), kaman (violin) dan lainnya (musical instruments)

 Ibnu Hazm berkata:" hadis ini munqathi`(terputus sanadnya), " bahkan Ibnu Hazm menghukumi maudhu` kepada hadis yang berkenaan dengan alat musik. Ini merupakan dakwaan yang salah karena Imam Bukhary telah menyebutkan hadis tersebut ditempat yang lain dengan sanad yang muttasil dan para Imam-Imam telah menerangkan bahwa satu hadis yang disebut oleh Imam Bukhary dalam bentuk ta`liq (putus pada awal sanadnya) tetapi beliau sebut dengan sighat jazam maka hadis tersebut shahih dan bisa dijadikan dalil bahkan hadis tersebut juga masyhur dari selain Bukhary Bukhary.

 - Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal:

 إِنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ بَعَثَنِي رَحْمَةً وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ، وَأَمَرَنِي أَنْ أَمْحَقَ الْمَزَامِيرَ وَالْكَبَارَات وَالْمَعَازِفَ وَالأَوْثَانَ الَّتِي كَانَتْ تُعْبَدُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ

 Artinya : Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi sekalian alam dan memerintahkan aku untuk menghapus mazamir (segala jenis seruling), kabarat (sejenis gitar), ma`azif dan patung yang disembah pada masa jahiliyah.

 - Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya, Ibnu Jarir, Ath Thabrany dan Ibnu Mardawaih.

 إن إبليس لما نزل إلى الأرض قال يا رب أنزلتنى إلى الأرض وجعلتنى رجيما فاجعل لى بيتا قال الحمام قال فاجعل لى مجلسا قال الأسواق ومجامع الطرق قال فاجعل لى طعاما قال ما لم يذكر اسم الله عليه قال اجعل لى شرابا قال كل مسكر قال اجعل لى مؤذنا قال المزامير قال اجعل لى قرآنا قال الشعر قال اجعل لى كتابا قال الوشم قال اجعل لى حديثا قال الكذب قال اجعل لى رسولا قال الكهانة قال اجعل لى مصايد قال النساء (ابن أبى الدنيا فى مكايد الشيطان ، وابن جرير ، والطبرانى ، وابن مردويه عن أبى أمامة) 

Artinya: Ketika diturunkan kebumi Iblis berkata:Ya tuhanku Engkau turunkan aku kebumi dan Engkau jadikan aku terkutuk, maka jadikanlah untukku rumah. Allah menjawab: kamar mandi. Maka jadikan untukku majlis. Allah menjawab: pasar dan tempat berkumpul di jalanan, maka jadikanlah untukku makanan, Allah menjawab: makanan yang tidak disebutkan nama Allah, maka jadikanlah untukku minuman, Allah menjawab: semua minuman yang memabukkan, maka jadikanlah untukku azan, Allah menjawab: Semua seruling, maka jadikanlah untukku qur-an, Allah menjawab: nyanyian. maka jadikanlah untukku kitab, Allah menjawab: tato, Maka jadikanlah untukku hadis, Allah menjawab dusta, jadikanlah untukku rasul, Allah menjawab: dukun, jadikanlah untukku perangkap, Allah menjawab: wanita.

4 . Mizmar (Seruling; jenis alat musik tiup)

 Menurut Al Kalaby, orang yang pertama sekali menciptakan seruling adalah Bani Israel. Para ulama telah sepakat (ijmak) mengharamkan seluruh jenis seruling, kecuali yara` yang dinamai juga dengan syabaabah (seruling tanpa mulut) . Menurut pendapat yang kuat ia juga diharamkan sama dengan jenis seruling lainnya. Ibnu Abi Asharun mengatakan : pendapat yang benar adalah haram, bahkan ia (syababah) lebih layak untuk diharamkan dibandingkan seruling lainnya yang telah disepakati keharamannya, karena suaranya lebih kuat dan ia merupakan syiar pemabuk dan orang – orang fasik. Para ulama membolehkan nafir (terompet) yang dipergunakan rombongan jamaah haji.

 Kaum Dhahiriyah dan Ibnu Thahir membolehkan seruling. Selain itu mereka juga menolak adanya nash yang melarangnya dan menganggap dhaif hadis-hadis yang berkenaan dengan alat tersebut. Para ulama menolak pernyataan tersebut karena karena keharaman alat musik memiliki dalil yangkuat berupa Al qur-an, Hadis, qiyas (analogi) bahkan ijmak(konsesus)

 Imam Nawawy dan Rafii mengatakan: Mizmar `iraqi (seruling yang memiliki mulut dan biasanya dipergunakan bersama autar) dan alat yang dipergunakan bersama autar haram tanpa khilaf" Imam Jamalul islam Ibnu Bizry mengatakan: "Syababah adalah seruling d

an ia haram berdasarkan nas. Dan wajiblah mengingkarinya dan tidak diperbolehkan mendegarnya" Al Qurthuby berkata: ia lebih tinggi dari seruling (lainnya), semua alasan diharamkan seruling juga ada padanya bahkan lebih, maka ia lebih aula (utama)untuk diharamkan".

 Dasar terjadi khilaf pada syababah adalah sebuah hadis dari Nafi`yang diriwayatkan oleh Abi Daud:

 عن نافع أنه قال: (سمع ابن عمر رضي الله عنهما مزماراً, قال: فوضع أصبعيه على أذنيه، ونأى عن الطريق، وقال لي: يا نافع ! هل تسمع شيئاً؟ قال: فقلت: لا، قال: فرفع أصبعيه من أذنيه، وقال: كنت مع النبي صلى الله عليه وسلم فسمع مثل هذا فصنع مثل هذا.

 Artinya: Dari Naf`,ia berkata: Ibnu Umar mendengar mizmar. Ia(Nafi`) berkata: maka ia (Ibnu Umar) meletakkan dua jarinya pada telinganya dan berpaling dari jalan. Ia (Ibnu Umar) berkata kepadaku: apakah masih kamu dengar sesuatu? Aku menjawab: tidak. Maka ia (ibnu Umar) mengangkat dua jarinya dari dua telinganya dan berkata: adalah aku bersama Nabi saw, maka beliau mendengar suara seperti ini, maka beliau berbuat seperti ini (menutup telinga).

 Para ulama yang membolehkannya, berpegang kepada tindakan Nabi SAW yang tidak menganjurkan Ibnu Umar untuk menutup telinganya dan tidak melarang pengembala yang membunyikan seruling tersebut. Maka dapatlah dipahami bahwa Nabi saw berbuat demikian karena membencinya atau karena beliau sedang dalam keadaan berzikir.

 Alasan tersebut ditolak oleh para ulama lainnya dengan beberapa alasan:

 - Rasulullah tidak memerintahkan Ibnu Umar untuk mengikuti beliau karena beliau telah mengetahi bahwa perbuatan beliau menjadi dalil maka pada saat beliau berbuat sesuatu pasti akan langsung diikuti oleh para shahabat.

 - Yang dilarang adalah istima`(mendengar secara sengaja), sedangkan bila terdengar tanpa kasad maka hal ini tidak mengapa. Maka Ibnu Umar pada ketika itu hanya mendengar tanpa adanya perhatian dan qasad.

 Kesimpulannya seluruh jenis seluring diharamkan walaupun yang terbuat dari jenis tanaman kecuali terompet yang dipergunakan para rombongan jamaah haji.

5 . Shanj(Cymbals)

Dinamakan juga dengan Shuffaqatain (Cymbals), yaitu alat musik yang berbentuk bulat lingkaran, cara memainkanya dengan memukulkan salah satunya kepada yang lain.

 Menurut pendapat yang kaut sebaimana disebutkan oleh Syaikhani, Qadhi Husain, Abu Ishaq Asy Syirazy dan lain-lain haram karena ia termasuk kebiasaan kaum mukhannisin (waria).

 Sedangkan Imam Haramain masih mentawaquf hukum mempergunakannya dengan alasan tidak ada hadis yang menerangkan hal tersebut. Hal ini dijawab oleh ulama lain bahwa ia diqiyaskan kepada thabbul kubbah.

 Demikian juga diharamkan Shaj yaitu dua bilah kayu yang dipukulkan satu sama lainnya.

 Adapun ayat Al qur-an yang menjadi pegangan para ulama dalam mengharamkan beberapa alat musik yaitu :

 1.surat Al Luqman ayat 5

 ومن الناس من يشترى لهو الحديث

 Ibnu Abbas dan Hasan menafsirkan ayat tersebut dengan Al Malahy (alat musik) 

2.surat Al Isra ayat 63

 واستفزز من استطعت منهم بصوتك 

Al Mujahid menafsirkan ayat tersebut dengan ghina`(nyanyian), dan mazamir (seruling).

 Dari beberapa urain diatas dapatlah kita pahami beberapa alasan diharamkan beberapa alat musik antara lain karena ;

 - Mendorong untuk melakukan hal hal yang haram seperti minum khamar

 - Karena merupakan adat kebiasaan dan syiar orang-orang fasiq maka menggunakannya akan menjadikan seseorang serupa dengan mereka.

 Hal tersebut bisa kita lihat pada zaman ini, musik mampu mendorong seseorang untuk bergojet ria dan mengkonsumsi narkoba, selain itu alat musik sangat dekat dengan kefasikan. Para anggota band sangat identik dengan narkoba dan pergaulan bebas, kenyakan badan mereka dipenuhi oleh tato. Karena itu menggunakan alat musik akan menyebabkan seseorang tasyabuh (serupa) dengan kaum fasiq, karena alasan inilah, sehingga dilaranglah alat musik.

 Ada juga sebagian orang yang mengatakan bahwa sebagian kaum shufi membolehkan mendengar alat musik karena bisa menambah semangat untuk berzikir, ini merupakan kesesatan mereka. Maka dapatlah kita perhatikan bahwa diantara alat musik ada yang sudah disepakati hukumnya dan ada pula yang masih diperselisihkan.

 Adapun yang sudah disepakati keharamannya antara lain:

 - Authar (jenis alat musik petik) - Mizmar (jenis alat musik tiuup) kecuali Syababah - Thabul Kubbah (sejenis dendrang) Yang ijmak kepada boleh antara lain:

 - Thabul (alat musik pukul) selain kubah, termasuk kedalamnya beduk, gendrang perang, rombongan jamaah haji dll Adapun yang khilaf tetapi menurut yang kuat dibolehkan adalah Duff(rebana) Yang khilaf tetapi yang kuat tidak dibolehkan antara lain:

 - Syababah

 - Shanj tanpa senar.

 Adapun alat musik modern bisa kita ketahui hukumnya dengan membandingkan dengan alat- alat musik yang telah disebutkan oleh para ulama dahulu. Bila pada alat tersebut terdapat ilat diharamkan alat musik yang lain maka sudah pasti bisa kita hukumi juga haram.

 sudah cukup jelas ya ... :D

apabila kurang puas boleh bertanya lewat comment di bawah ini !

dan jangan lupa sobat untuk follow dan bagikan, oke

Wassalamualaikum wr.wb

terimakasih telah berkunjung .. semoga ilmu yang di bagikan bisa bermanfaat amin... :D

Continue reading →

Labels