Sunday, May 14, 2017

Adab terhadap Guru

0 komentar

PERAN  ORANGTUA, GURU, DAN SEKOLAH DALAM UPAYA PROSES PENDIDIKAN ANAK

A.     Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk mengantarkan anak didik menuju pada kedewasaannya dalam berbagai aspek, baik dalam cakupan moral maupun material. Upaya tersebut dijalankan berdasarkan satu asumsi bahwa keterdidikan yang kelak dimiliki seorang anak, lebih kuat  karena potensi sendiri, yang berhasil digali oleh factor pendidikan yang dijalaninya.
Di bagian lain, pencapaian hasil maksimal suatu proses pendidikan bagi seorang anak, juga sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh factor orangtuanya, yang tidak dapat tidak harus terikat dan terjun langsung di dalamnya. Dalam hal ini orang tua bukan hanya sebagai pembuka kemungkinan terselenggaranya pendidikan bagi anaknya, tetapi sekaligus berperan sebagai guru bagi mereka.
Mnurut format ini, maka dapat dipahami bahwa suatu proses didik seorang anak terlebih dahulu berlangsung dan berhadapan dengan orangtuanya dalam keluarga, baru setelah itu dengan guru di sekolah, yang sekaligus sebagai salah satu komponen yang amat penting dan utama bagi terselenggaranya upaya pendidikan dalam konteks yang formal. Untuk itu, guru sekolah merupakan orang kedua yang berperan dalam membangkitkan potensi intelektual seorang anak, sehingga dia dapat menjadi orang yang dewasa dalam segala aspek.

B.      Guru dalam keluarga
Untuk memperoleh suatu gambaran yang lebih jelas, maka dapat diperkirakan bahwa dalam sepekan seorang anak didik [pelajar], hanya berada di lingkungan sekolah lebih kurang 39 jam. Selebihnya, atau kurang lebih 129 jam [169 jam sepekan dikurangi jam belajar di sekolah], seorang anak berada dipangkuan dan dalam proses pendidikan keluarganya.
Realitas ini secara langsung memberikan gambaran, bahwa proses belajar seorang anak lebih banyak di jalani dengan “guru” dalam keluarga [masyarakat sekitarnya lebih cenderung tidak dapat lagi ditempatkan sebagai guru dalam arti yang konkret]. Dalam keluarga, anak akan belajar berbagai hal dan kebanyakan bersifat praktis [non teoritis], dan bentuk dukungan terhadap proses pembelajaran teoritis yang umumnya diperoleh anak dari sekolah.
Sekalipun dalam keluarga anak tidak langsung berhadapan dengan seorang guru sebagaimana halnya di sekolah, “guru-orangtua” berfungsi dan berperan sebagai pusat sumber lahirnya mitivasi belajar anak [aspek intelektual] dan post identifikasi aspek keteladanan untuk bekal moral kehidupannya. Untuk aspek terakhir ini, terdidik memang tidak langsung berhadapan dengan pendidik, tapi berlangsung proses belajar di dalamnya.
Kejelasan ini ditemukan dari kenyataan bahwa sesungguhnya anak belajar dari orangtuanya, sehingga dengan demikian, orangtua juga merupakan guru bagi seorang anak. Pengajaran orang tua merupakan awal dan kelanjutan proses belajar yang telah diupayakan pada guru di sekolah, yang lebih banyak pada bentuk kontak formal dan lebih menekankan pada intellectual-oriented.
Dalam keluarga, di samping mempertajam intelektual dimaksud, seorang anak juga belajar value [nilai] berupa sopan santun, cara hidup bermasyarakat, dan segala sesuatu lainnya yang berkaitan dengan aspek moralitas. Aspek-aspek yang demikian ini tidak begitu tegas dapat diperoleh anak di sekolah, karena dominannya kontak formal yang begitu terarah pada aspek kognitif. Selain itu, peluangnya memang begitu besar diperoleh keluarga sesuai lamanya waktu yang dijalani anak di luar sekolah.

C.      Guru di Sekolah
Salah satu tugas para guru di sekolah yang cukup menonjol adalah melakukan upaya-upaya yang mamancing dan menggali potensi intelektual anak didik. Dalam lingkup yang kecil, juga terdapat factor indentifikasi keteladanan bagi anak didiknya dan memberikan motivasi-motivasi yang dapat meyakinkan anak didik agar percaya, bahwa belajar secara terprogram di luar sekolah, hampir sama nilai urgensinya dengan kehadiran untuk belajar di sekolah.
Ini adalah tugas dan upaya maksimal yang dapat dilakukan seorang guru yang henya mendapat bagian waktu mendidik sebanyak 39 jam dalam sepekan. Pada umumnya juga hanya dalam bentuk kontak formal serta sangat dekat dengan intellectual oriented dengan keragaman ilmu yang berjejal. Dibagian lain, disadari atau tidak, aktivitas tersebut bagi para guru juga berkorelasi dengan keharusannya karena factor 

Leave a Reply

Labels